Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Di sebuah sudut Nusa Tenggara Timur yang sunyi, seorang anak memutuskan untuk berhenti bernapas.
Ia tidak menyerah karena deru peluru perang, bukan pula karena wabah penyakit atau amukan bencana alam. Ia mengakhiri hidupnya karena sebuah alasan yang seharusnya remeh di telinga kita: ibunya tak mampu membelikan sebuah buku dan sebatang bolpoin.
Di saat kita yang di kota sibuk berdebat tentang fluktuasi IHSG, lonjakan harga emas, hingga gegap gempita kecerdasan buatan (AI), ada anak-anak di pelosok rahim bumi Flobamora yang harus bertarung melawan rasa malu hanya untuk sekadar belajar. Tragedi ini bukan sekadar berita duka; ini adalah tamparan keras bagi nurani kita. Ini adalah gugatan bagi kita, terutama pemerintah: sejauh mana negara benar-benar hadir melindungi hak paling mendasar warganya?
Kemiskinan Bukan Sekadar Angka
Bagi saya, kemiskinan bukan sekadar deretan statistik di atas meja rapat. Kemiskinan itu nyata. Ia tidur di ranjang tanpa selimut, ia menganga di dapur yang tak berberas, ia gelap di rumah tanpa listrik, dan ia membisu di sekolah dalam tas yang kosong dari alat tulis.
Bunuh diri yang dipicu kemiskinan adalah sebuah akumulasi dari kegagalan kolektif. Kita gagal menyediakan jaring pengaman bagi mereka yang paling rentan, dan kita belum cukup tangguh dalam memberdayakan ekonomi keluarga-keluarga di garis bawah.
Sejatinya, anak ini tidak ingin mati. Ia hanya kehilangan alasan untuk terus hidup. Secara medis, manusia mungkin bisa bertahan tanpa makan hingga satu-dua bulan, tanpa minum 1-2 minggu.






