Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Pendahuluan
Ruang kelas idealnya menjadi ruang aman, nyaman, serta mendukung perkembangan siswa baik secara akademik maupun emosional. Namun, berbagai penelitian dan realitas lapangan menunjukkan bahwa kekerasan di ruang kelas masih sering terjadi, terutama di tingkat sekolah dasar.
Kekerasan dapat muncul dalam bentuk fisik, verbal, emosional, maupun simbolik, dan dapat dilakukan oleh teman sebaya, guru, ataupun muncul dari budaya sekolah yang tidak terkontrol.
Pada anak usia sekolah dasar, sistem psikologis masih dalam proses perkembangan sehingga mereka lebih rentan terhadap dampak negatif kekerasan.
Pengalaman buruk pada tahap perkembangan awal dapat menimbulkan gangguan psikologis jangka panjang dan menghambat perkembangan sosial maupun akademik siswa.
Kondisi ini membuat isu kekerasan di ruang kelas menjadi sangat relevan dalam kajian pendidikan dan profesi keguruan.
Guru sebagai figur sentral dalam proses pendidikan harus memahami dampak kekerasan, penyebabnya, serta strategi pencegahannya untuk memastikan ruang kelas menjadi lingkungan yang aman bagi semua siswa.
Bentuk-Bentuk Kekerasan di Ruang Kelas Yaitu:
1. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik mencakup tindakan agresif seperti memukul, menendang, mendorong, mencubit, menarik rambut, atau merusak barang milik siswa. Kekerasan jenis ini biasanya terlihat paling nyata dan mudah dikenali, namun dalam beberapa kasus justru ditoleransi sebagai “kenakalan anak-anak” sehingga tidak dianggap serius.
Pada tingkat sekolah dasar, kekerasan fisik sering terjadi dalam bentuk perkelahian kecil, tindakan impulsif, atau bullying fisik yang dilakukan oleh kelompok tertentu kepada individu yang dianggap lemah.







