Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Suasana penuh sakral dan nuansa kasih menyelimuti kapela kecil Stasi Santo Yohanes Pemandi Nekmese pada perayaan Minggu Pentakosta. Bapak-bapak dari Wilayah Buraen membawakan lagu-lagu pujian dengan penuh penghayatan, sehingga semarak hari turunnya Roh Kudus terasa begitu hangat dan hidup meskipun umat melaksanakannya di kapela yang sederhana
Namun, di balik kehangatan perayaan tersebut, ada pesan teologis dan pastoral yang mendalam sekaligus menggetarkan hati umat yang hadir. Melalui khotbahnya, Pastor Paroki (RD) Daniel Banamtuan memberikan penegasan penting mengenai iman Triatika serta sebuah peringatan keras yang tertulis dalam Kitab Suci.
Jangkauan Karya Tiga Pribadi Ilahi
Dalam khotbahnya, Romo Daniel menekankan bahwa Tanda Salib adalah pengingat nyata akan hadirnya Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tindakan ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun momen hidup umat yang luput dari penyertaan Allah.
Suasana kapela menjadi kian hening saat Romo Daniel mengulas kembali salah satu ayat Kitab Suci yang paling sering mengundang pertanyaan umat. Beliau mengupas tuntas arti dosa menghujat Roh Kudus, sebuah perbuatan yang tidak akan pernah menerima pengampunan.
“Semua dosa dan penghujatan manusia dapat diampuni, tetapi menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni. Ini menyangkut pengakuan ibadat dan komitmen iman kita kepada Pribadi-Nya,” tegas RD Daniel secara langsung di hadapan umat Stasi Nekmese.
Beliau meluruskan pemahaman umat agar tidak salah mengartikan ayat ini. Menghujat Roh Kudus, jelas Romo Daniel, bukanlah ketidakmampuan Allah untuk mengampuni, melainkan penolakan mutlak dari manusia itu sendiri. Dosa ini terjadi ketika seseorang secara sadar, tegar tengkuk (keras kepala), dan secara terus-menerus menolak rahmat, pertobatan, serta kasih yang ditawarkan oleh Roh Kudus.
Menutup diri dari Roh Pertobatan berarti mengunci pintu ampunan Allah, karena pengampunan tidak akan masuk ke dalam hati yang menolak penyesalan.
Sebelum mengakhiri retret batin di Stasi Nekmese, RD Daniel Banamtuan memberikan catatan liturgis penting mengenai etika umat di rumah Tuhan. Beliau menegaskan bahwa gereja bukanlah panggung festival budaya untuk mencari popularitas atau apresiasi manusiawi.
Di dalam gereja, kita tidak boleh mencari tepuk tangan manusia. Yesus yang disalib tidak pernah meminta hal itu. Saya menganjurkan Anda sekalian untuk melipat tangan dan berdoa,” tegas Romo Daniel.
Momentum Pentakosta ini menggugah umat untuk pulang membawa pembaruan budi. Kini, mereka siap membangun keteguhan doa yang hening, menjaga kemurnian iman, dan menjadikan Roh Kudus sebagai kompas kehidupan sehari-hari.








