Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Kupang,Narasitimur.Com-Umat Katolik di Paroki St. Yohanes Pemandi Buraen merayakan Misa Kamis Putih dengan penuh khidmat pada Kamis malam. Perayaan yang menjadi pembuka Tri Hari Suci ini dipimpin langsung oleh RD. Aven dan dihadiri oleh ratusan umat yang memadati gereja dengan nuansa pakaian putih.
Ada pemandangan unik dalam perayaan tahun ini. Sosok 12 Rasul yang dipilih bukan sekadar representasi formal, melainkan dari mereka ada pribadi-pribadi yang dengan rendah hati menyatakan kesediaan diri untuk “kembali” dan memperbaharui komitmen iman mereka.
Suasana liturgi semakin semarak dan menyentuh hati berkat penampilan koor gabungan dari KBG Hati Kudus Yesus Buraen dan KBG St. Agustinus Buraen. Harmonisasi suara mereka berhasil membawa umat larut dalam keheningan doa yang mendalam.
Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Beriman
Dalam homilinya, RD. Aven menekankan bahwa Kamis Putih adalah momen mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Ia mengingatkan bahwa Ekaristi adalah inti paling penting dalam kehidupan Katolik.
“Dari tujuh sakramen, kita mengakui bahwa Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak. Malam ini kita merayakan kasih setia Tuhan yang beralih dari perbudakan menuju kebebasan,” ungkap RD. Aven.
Beliau menjelaskan sejarah Paskah yang berakar dari tradisi bangsa Israel, di mana darah domba menjadi tanda keselamatan. Namun, dalam iman Katolik, tradisi itu digenapi oleh Kristus.
“Darah domba diganti dengan Darah Tuhan, tubuh hewan diganti dengan Tubuh Tuhan. Ini adalah malam yang terang dan penuh syukur karena Tuhan memberikan seluruh diri-Nya bagi kita,” tambahnya.
Belajar dari Petrus dan Yudas Iskariot
Menyoroti ritual pembasuhan kaki, RD. Aven memberikan refleksi tajam mengenai dua tokoh Alkitab: Yudas Iskariot dan Petrus. Beliau menyebut seringkali manusia modern terjebak dalam karakter keduanya. Karakter Yudas yang rutin merayakan Ekaristi, namun kerap jatuh kembali ke dalam dosa dan kesalahan yang sama. dan Karakter Petrus yang Terlalu percaya diri dan mengandalkan kekuatan diri sendiri tanpa bersandar pada rahmat Tuhan.
Di zaman modern, masyarakat mengakses informasi dengan sangat mudah melalui TikTok atau YouTube. Namun, RD. Aven menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan membuahkan hasil tanpa tindakan dan teladan nyata.Yesus menjadi figur abadi karena Ia tidak sekadar mewartakan ajaran, tetapi langsung memberikan teladan konkret. Ia membasuh kaki para murid-Nya—sebuah pekerjaan yang masyarakat zaman itu anggap sebagai tugas rendahan seorang Hamba
RD. Aven mengajak seluruh umat, baik yang merasa gagal seperti Yudas maupun yang sombong seperti Petrus, untuk tetap datang kepada Tuhan.
“Mungkin kita merasa kehilangan harapan karena tantangan hidup. Namun, malam ini Tuhan Yesus masih mau membasuh kaki kita. Biarkan diri kita dibersihkan dari noda dosa agar kekayaan iman ini menjadi kekuatan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”
Umat mengakhiri perayaan dengan prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus menuju tempat tuguran. Para petugas segera mengosongkan altar untuk menyimbolkan kesedihan Gereja saat memasuki masa sengsara Kristus. Selanjutnya, umat dari berbagai KBG secara bergilir melaksanakan adorasi sakramen hingga tengah malam.( ard)







