Menggugat Sinterklas Yang Datang Setelah Nisan Tertancap

| Editor: Redaksi
Oleh : Redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

NarasiTimur.com- Tragedi memilukan di Ngada, di mana seorang anak berusia 10 tahun memilih mengakhiri hidup karena tak memiliki buku dan sebatang bolpoin, telah membuka kotak pandora tentang wajah asli kepedulian kita.

Tak lama setelah berita ini viral dan membanjiri beranda media sosial, tiba-tiba kita menyaksikan pemandangan yang lazim, gelombang bantuan datang berbondong-bondong ke rumah duka.

Bacaan Lainnya

Para pejabat, politisi, hingga komunitas sosial hadir membawa bantuan, donasi, dan janji-janji manis. Mereka datang bak “Sinterklas” yang membawa kado di tengah duka, atau bak “Pemadam Kebakaran” yang menyemprotkan air saat rumah sudah menjadi abu.

Namun, ada sebuah pertanyaan pahit yang tertinggal di udara: Ke mana kita semua sebelum pelatuk keputusasaan itu ditarik?

Filantropi yang Terlambat

Kita harus jujur pada diri sendiri bahwa bantuan yang hadir pasca-viralitas seringkali bukan didorong oleh sistem perlindungan sosial yang matang, melainkan oleh “rasa bersalah kolektif” atau yang lebih buruk hanya sekadar momentum untuk tampil di panggung publik.

Memberi bantuan berupa uang, beasiswa, atau perbaikan rumah kepada keluarga yang telah kehilangan anaknya memang baik.

Namun, bagi si anak, bantuan itu sudah tidak bermakna. Ia butuh buku itu minggu lalu, ia butuh bolpoin itu kemarin, saat rasa malu di depan kelas membakar harga dirinya hingga habis.

Fenomena ini menunjukkan betapa lumpuhnya sistem deteksi dini pemerintah. Mengapa di negeri yang katanya kaya akan budaya gotong royong, seorang anak bisa merasa sendirian di titik paling gelap dalam hidupnya?

Sangat miris jika viralitas menjadi satu-satunya pintu masuk bagi bantuan pemerintah. Jika tidak ada kamera yang menyorot, apakah anak-anak lain di pelosok NTT yang mengalami nasib serupa akan tetap dibiarkan “mati pelan-pelan” oleh kemiskinan?

Pos terkait