Polemik Pungutan SMA di NTT: Mengapa Kita Harus Duduk Bersama demi Kualitas Pendidikan?

Oleh : Dr. Blasius Paga, S.Hut. M.Si
Dosen Jurusan Kehutanan Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

2. Orang Tua: Mitra Strategis dan Penentu Keberhasilan

Saya percaya, sebagian besar orang tua yang setuju dengan pungutan itu melakukannya bukan karena terpaksa, melainkan karena mereka memahami bahwa investasi pada pendidikan anak adalah investasi terbaik.

Bacaan Lainnya

Mereka melihat langsung bagaimana fasilitas yang lebih baik atau program tambahan bisa menunjang potensi anak. Ini sejalan dengan Teori Modal Sosial (Social Capital Theory) yang dikemukakan oleh James S. Coleman (1988).

Coleman berargumen bahwa keterlibatan orang tua dan dukungan komunitas (termasuk finansial) menciptakan modal sosial yang kuat di sekolah, yang pada gilirannya berkorelasi positif dengan peningkatan prestasi akademik siswa dan iklim sekolah yang kondusif. Ketika orang tua merasa memiliki andil, kepedulian mereka akan jauh lebih besar.

3. Komite Sekolah: Jembatan Aspirasi dan Pengawas Partisipatif

Komite sekolah seharusnya menjadi benteng transparansi dan akuntabilitas. Mereka adalah perpanjangan tangan orang tua dan masyarakat di sekolah. Dalam kasus pungutan, komite bertanggung jawab penuh memastikan proses musyawarah berjalan demokratis, tanpa paksaan, dan hasil kesepakatan digunakan secara tepat guna.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 47 ayat (1), jelas mengamanatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan.

Namun, Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 yang mengatur komite sekolah memiliki “celah” yang seringkali jadi akar masalah: Komite boleh menggalang dana, tapi tidak boleh memberatkan, wajib, atau menentukan jumlahnya.

Pos terkait