Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
KUPANG, NarasiTimur.com- Tepat sehari setelah sukacita kelahiran Yesus, Gereja Katolik menyentak umatnya dengan peringatan yang Pesta Santo Stefanus, martir pertama yang tewas bersimbah darah demi iman.
Dalam kotbahnya di Paroki Buraen, RD. Bernardus Udah dalam perayaan tersebut mengajak umat untuk merefleksikan kembali makna sejati menjadi seorang Katolik.
Menurutnya, iman tidak selamanya tentang euforia “senang-senang”, melainkan juga tentang keberanian untuk menderita dan setia di tengah himpitan hidup.
Natal Bukan Sekadar Pesta dan Baju Kredit
RD. Bernardus menyentil fenomena sosial yang kerap terjadi di tengah masyarakat saat menyambut hari raya. Ia menyoroti bagaimana banyak orang rela berkorban demi penampilan luar—seperti membeli baju Natal yang bagus meskipun harus mencicil namun enggan berkorban secara spiritual.
“Jangan sampai kita merayakan sukacita Natal, tetapi pusing tujuh keliling membayar utang setelahnya,” selorohnya yang memancing senyum getir umat.
Ia meminta umat agar menjadikan keberanian Santo Stefanus sebagai cermin kehidupan. Jika dahulu Stefanus berdiri tegak menghadapi pengadilan yang tidak adil tanpa rasa takut, RD. Bernardus menyentil perilaku orang zaman sekarang yang justru memilih “sembunyi di hutan pisang” hanya untuk lari dari tanggung jawab atau tagihan utang
Menghadapi “Martir” di Era Modern
“RD. Bernardus menegaskan bahwa penderitaan zaman sekarang tidak lagi selalu mewujud dalam penganiayaan fisik atau lemparan batu maut seperti yang menimpa Stefanus.
Namun, tantangan iman kini menyamar dalam bentuk yang lebih halus tetapi tetap menyayat hati, fitnah yang menjalar, penolakan yang dingin, serta rasa cemburu yang merusak hubungan sesama.
Ironisnya, konflik ini seringkali tidak datang dari luar, melainkan dari dalam rumah sendiri.
“Pertengkaran banyak kali terjadi di dalam keluarga. Saling curiga, saling memfitnah karena faktor ketidaksukaan atau kecemburuan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti siap ditolak saat memperjuangkan kebenaran. Ia meminta umat di Buraen untuk berhenti menyebarkan berita bohong atau menghasut orang lain hanya karena rasa benci pribadi.






