Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Kupang,Narasitimur.Com-Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti Gereja Katolik Paroki St. Yohanes Pemandi Buraen dalam Ibadat Jumat Agung. Ribuan umat hadir untuk mengenang penderitaan dan wafat Yesus Kristus yang dipimpin langsung oleh RD. Aken Udjan.
Yosefus Meo, Emanuel Diaz, dan Fidelis Rensini tampil memukau sebagai pembawa Passio. Penampilan mereka berhasil menghanyutkan umat dalam kesedihan mendalam, mengajak setiap orang merenungi setiap tetes darah dan luka Kristus yang menebus dosa manusia.
Salib: Bukan Sekadar Kata, Tapi Tindakan Total
Dalam homilinya yang tegas dan menyentuh, RD Aken Udjan mengajak umat untuk menggali jawaban atas pertanyaan mendasar: “Mengapa Allah yang Mahakuasa memilih jalan salib yang penuh derita, bukan sekadar mengucapkan kalimat pengampunan?”
RD Aken menjelaskan bahwa dalam tradisi Israel, pemulihan kehidupan selalu berkaitan dengan pengorbanan. Sebagaimana ritual Yom Kippur (hari penghapusan dosa) dan darah anak domba pada peristiwa Paskah Yahudi di Mesir, pola keselamatan menunjukkan bahwa yang tidak bersalah harus memikul kesalahan orang lain.
“Darah hewan tidak pernah sungguh-sungguh menghapus dosa. Nubuat Nabi Yesaya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus yang tidak berdosa, namun menderita demi kita karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri,” ungkap RD Aken.
Dua Kebenaran Besar di Balik Salib
RD Aken menekankan dua poin penting yang menuntut renungan mendalam dari setiap orang beriman:
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa dosa merupakan persoalan yang sangat serius. Seandainya Allah hanya mengampuni manusia melalui kata-kata belaka, maka besar kemungkinan manusia akan menyepelekan dampak dosa tersebut. Oleh karena itu, melalui peristiwa salib, Allah memperlihatkan secara gamblang bahwa dosa telah merusak relasi dan membawa konsekuensi kematian yang nyata.
Selain itu, terkadang Tuhan sengaja membiarkan manusia merasakan “penderitaan” tertentu. Hal ini bertujuan agar manusia menyadari betapa mematikannya efek dosa dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, penderitaan tersebut menjadi alarm spiritual yang menyadarkan kita untuk segera berbalik kepada-Nya.
Selanjutnya, peristiwa salib juga merepresentasikan puncak kasih Allah yang paling sempurna. Salib menjadi bahasa kasih yang paling nyata karena tidak ada kasih yang lebih besar daripada pengorbanan seseorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya.
Lebih jauh lagi, Allah membuktikan bahwa Ia tidak sekadar mengampuni kita dari kejauhan. Sebaliknya, Ia memilih untuk terlibat langsung dan masuk ke dalam penderitaan manusia yang paling dalam. Pada akhirnya, tindakan aktif Allah ini menegaskan bahwa kasih-Nya bukan hanya sebatas teori, melainkan sebuah aksi nyata yang memulihkan martabat kita.
“Jangan terlalu cepat menyalahkan kuasa kegelapan atau orang lain saat tertimpa kemalangan. Periksa diri, jangan sampai itu adalah teguran agar kita bertobat dari dosa yang sudah menumpuk,” tegasnya.








