Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Belajar dari Langkah Gembala dan Diamnya Maria
RD. Daniel mengajak umat merenungkan dua teladan besar dalam peristiwa Natal: Para Gembala dan Bunda Maria. Para gembala melangkah apa adanya, mengenakan pakaian sederhana sembari membawa hati yang siap menerima kejutan rahmat Allah. Di palungan itu, mereka menemukan kenyataan luar biasa bahwa Allah kini hadir dalam jarak yang jemari mereka bisa menyentuhnya.
Fenomena ini menjadi sebuah misteri tremendum et fascinosum—sebuah perjumpaan yang menggetarkan jiwa sekaligus menarik hati manusia untuk mendekat. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana keagungan Ilahi menyatu dengan kerendahan hati manusia.
Di sisi lain, ada Maria yang memilih diam. “Maria tidak tergesa-gesa menjelaskan apa yang terjadi. Ia menyimpan segala perkara dalam hatinya, menampung cahaya tanpa membiarkannya tumpah,” jelas RD. Daniel. Perjumpaan antara gerak aktif para gembala dan keheningan Maria inilah yang menjadi inti dari pertumbuhan iman.
Harapan yang Tak Padam di Tahun 2025
Menutup refleksinya, RD. Daniel mengajak seluruh umat di Paroki Buraen untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kehadiran kita membawa damai di dalam keluarga?
Natal mungkin tidak mengubah seluruh keadaan dunia secara instan, namun Natal mengubah cara manusia memandang kehidupan. Di tengah letihnya perjuangan sepanjang tahun 2025, penyertaan Emanuel (Allah beserta kita) menjadi api yang menyalakan kembali harapan yang hampir padam.
“Semoga lahirnya Kristus meneguhkan iman kita saat menemui benturan hidup, dan menjadikan setiap keluarga sebagai tempat yang terbuka bagi kehadiran-Nya. Selamat Natal,” pungkasnya.
Perayaan pun berakhir, namun umat pulang dengan hati yang berkobar—sama seperti para gembala yang kembali ke padang, namun dengan semangat hidup yang baru.ard








