Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Oni Manas: Dipanen sekitar September-Oktober, dominan sari bunga pohon Kusambi, menghasilkan rasa yang sedikit asam.
Ritual Sakral: Komunikasi dengan ‘Putri Hutan’
Panen madu di Amfoang dianggap sebagai ritual yang sakral. Masyarakat percaya bahwa lebah madu adalah “putri hutan” yang dijaga oleh kekuatan supranatural (Feot Naij). Oleh karena itu, Ahelit harus memenuhi sejumlah syarat adat yang ketat.
Ahelit dilarang menggunakan wewangian atau sabun selama beberapa hari sebelum panen sebagai simbol kemurnian hati.
Saat memanjat pohon hingga puluhan meter dan menyulut asap untuk mengusir lebah, Ahelit melantunkan tuturan yang disebut “Oe Oni” atau “Nel di mana”.
Syair ini berisi sanjungan kepada lebah, memohon izin untuk mengambil sebagian hasil madunya.
Proses pengambilan madu dilakukan dengan hati-hati menggunakan teknik khusus yang diajarkan turun-temurun, memastikan lebah tidak mati dan sarang tetap menyisakan bagian kepala madu (Palel) sebagai cadangan makanan agar koloni lebah kembali bersarang di pohon yang sama musim berikutnya.
Prinsip berkelanjutan ini, yaitu memanen tanpa merusak lebah dan hutan, adalah kunci mengapa hutan Amfoang tetap menjadi pusat sarang lebah terbesar di Pulau Timor dan terus menghasilkan madu berkualitas tinggi.(bos)







