Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
KUPANG, NarasiTimur.com – Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menyajikan panorama darat yang memesona, tetapi juga hasil hutan yang kualitasnya diakui dunia: Madu Hutan Amfoang.
Diambil dari hutan tropis di kawasan Timau, Amfoang Timur, madu ini bukan sekadar komoditas, melainkan hasil dari kearifan lokal, spiritualitas, dan tradisi panen yang telah dijaga turun-temurun.
Madu Amfoang yang dihasilkan oleh lebah hutan liar jenis Apis dorsata ini bahkan pernah disebut-sebut memiliki kualitas terbaik ketiga di dunia.
Namun, di balik rasa manisnya, terdapat kisah yang melibatkan bintang-bintang di langit dan ritual sakral di jantung hutan.
Panduan Langit: Bintang Kejora dan Tiga Jenis Madu
Bagi masyarakat adat di Amfoang, proses panen madu (heli onij) sangat terikat pada pengetahuan semesta, atau yang dikenal sebagai etnoastronomi.
Para pemanen madu Amfoang, yang disebut Ahelit atau Meo Oni (pemanjat), mengandalkan penanda alam, terutama bintang. Mereka percaya bahwa terbenamnya Bintang Kejora (Sua Oni atau Venus) di awal malam merupakan penanda waktu yang tepat untuk dimulainya musim panen. Saat itulah hutan mencapai fase paling gelap, ideal untuk melakukan panen dengan aman.
Madu Amfoang sendiri terbagi menjadi tiga jenis utama berdasarkan waktu panen dan dominasi sari bunga:
Oni Tolo: Dipanen akhir Desember-awal Januari, didominasi sari bunga pohon Ampupu dan Asam, biasanya lebih encer.
Oni Hu’el: Dipanen sekitar Mei-Juni, didominasi sari bunga Kayu Putih (Hu’el), madunya kental dan sangat manis.






