Mengenal Tradisi Minggu Palma Bagi Orang Katolik: Saat Sorak-Sorai Bertemu Bayang-Bayang Salib

Reporter: Ryan 
| Editor: Redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

KUPANG, Narasi Timur.com— Memasuki Pekan Suci, hari Minggu Palma umat Katolik membawa anyaman daun kelapa atau palem menuju gereja menjadi pemandangan khas yang menyejukkan.

Bagi Umat Katolik Daun Palma bukan sekadar aksesori perayaan, dibalik itu tersimpan makna kemenangan sekaligus pengorbanan yang menjadi inti iman Kristiani.

Perayaan Minggu Palma merupakan pintu gerbang menuju masa sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Penggunaan daun palma sendiri merujuk pada tradisi kuno yang melambangkan kejayaan dan penghormatan setinggi-tingginya.

Dalam tradisi Alkitab, ketika Yesus memasuki Yerusalem, orang-orang menghamparkan pakaian dan melambai-lambaikan dahan pohon palem. Di masa itu, palem adalah simbol kemenangan bagi raja atau pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Namun, bagi umat Katolik, palma memiliki makna ganda yang unik yakni Menyambut Yesus sebagai Raja Semesta Alam.

Serta juga menjadi awal Kesengsaraan dimana umat menyadari bahwa “Raja” yang disambut dengan sorak-sorai ini akan segera memanggul salib demi menebus dosa manusia.

Mengapa Daun Palma Harus Diberkati?

Dalam liturgi Katolik, daun palma yang dibawa umat akan diperciki air suci oleh Imam dalam upacara perarakan. Setelah diberkati, daun ini menjadi “benda suci” (sakramentali).

Umat biasanya membawa pulang palma tersebut untuk dipasang pada salib di rumah masing-masing sebagai pengingat akan kehadiran Tuhan yang melindungi keluarga.

Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Buraen, Romo Daniel Banamtuan saat perayaan Minggu Palma dalam kotbahnya menjelaskan dalam tradisi Katolik, daun palma yang sudah diberkati tidak boleh dibuang sembarangan.

Pos terkait