Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Kupang,Narasitimur.Com-Pagi itu, suasana di Paroki Buraen terasa berbeda. Udara yang biasanya tenang berganti dengan derap langkah kaki umat yang berduyun-duyun datang membawa pucuk-pucuk daun palem hijau. Di bawah langit yang cerah, umat merayakan Minggu Palma sebagai pintu gerbang menuju Pekan Suci dengan penuh khidmat.
Perayaan ekaristi kali ini dipimpin langsung oleh RD Daniel Banamtuan. Kehadiran beliau di tengah umat memberikan nuansa spiritual yang mendalam, mengajak setiap hati yang hadir untuk merenungkan kembali arti pengorbanan dan kesetiaan.
Lambaian Palem: Simbol Kemenangan dan Penyerahan Diri
Prosesi dimulai dengan pemberkatan daun palem. Sambil mengayunkan percikan air suci, RD Daniel Banamtuan memimpin umat dalam perarakan yang meriah. Lambaian daun palem di tangan anak-anak hingga lansia bukan sekadar tradisi rutin, melainkan simbol penyambutan Sang Raja yang memasuki Yerusalem dengan kerendahan hati.
“Minggu Palma adalah momen di mana kita bersorak ‘Hosana’, namun di saat yang sama, kita bersiap untuk masuk ke dalam misteri sengsara-Nya,” ungkap RD Daniel dalam pesan pastoralnya. Beliau menekankan bahwa kegembiraan hari ini adalah pengingat akan keteguhan iman di tengah cobaan yang akan datang.
Menggali Akar Tradisi: Mengapa Minggu Palma Begitu Sentral?
Dalam tradisi Katolik, umat merayakan Minggu Palma (Dominica in Palmis) untuk mengenang momen saat Yesus memasuki kota Yerusalem dengan penuh kemenangan sebelum Ia menjalani penyaliban. Peristiwa ini menandai awal dari Pekan Suci, di mana Gereja menghayati kembali kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Berdasarkan catatan sejarah gereja, tradisi penggunaan daun palem ini memiliki akar yang sangat tua:






