Air Mata dan Keringat Jadi Akar Panggilan: RD. Yoseph Pehe Pulang Kampung, Disambut Meriah di Buraen Amarasi

Reporter: Ryan 
| Editor: Redaksi
Oplus_131072

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

Romo Yosep Pehe bersama ibu dan saudaranya disambut umat di Buraen

Motto Imamat: “Sebab Dia Menjadikannya Adalah Setia”

Kehangatan dan sukacita memenuhi Perayaan Ekaristi syukur itu. Misa dipimpin langsung Imam baru RD. Yoseph Pehe. Sejumlah imam konselebran turut mendampingi perayaan ini.

Khotbah pada Misa Syukur itu dibuka dengan kisah hidup sang Yubilaris. Kisah perjuangan itu merentang dari Buraen hingga Maumere.

Bacaan Lainnya

Diceritakan, Romo Pehe dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Sosok sang ibu, Sofia Watu, adalah pilar utama. Sang ibu berperan ganda sebagai ibu sekaligus ayah setelah kepergian suaminya.

“Imamat ini bersumber dari air mata dan keringat,” ditekankan dalam khotbah. Kalimat itu menggambarkan pengorbanan yang tak kenal lelah.

Sang ibu bahkan harus merantau demi kelangsungan hidup anaknya. Perjuangan keras ini menjadi kesaksian nyata akan kasih setia Tuhan.

Mengutip motto imamatnya, RD. Yoseph Pehe menegaskan kesetiaan Allah. “Sebab Dia menjadikannya adalah setia,” ucapnya.

Allah setia pada janji-Nya, memanggilnya dan akan memampukannya hingga akhir. Panggilan ini harus berakar dari pohon yang baik yaitu panggilan Tuhan yang sejati.

Romo Yosep Pehe mengenakan busana adat Amarasi dalam perayaan misa syukur imam baru di tengah keluarga.

Refleksi Iman: Kekuatan Doa dalam Keluarga

Khotbah juga menyoroti kekuatan doa. Doa mampu mengubah segala sesuatu di tengah kesulitan apapun. Romo Pehe menutup khotbah dengan dua pertanyaan reflektif yang merangkum perhatian pastoral: Apakah para suami mendoakan istri-istrimu? Apakah para istri mendoakan suami-suamimu?

Pos terkait