Transformasi Jakarta Menuju Kota Global: Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Alumni Bahas Visi Jakarta 2045

Reporter: Ryan Tapehen  
| Editor: Redaksi
Pose bersama usai seminar menyambut lima abad kota Jakarta yang bertajuk “Membaca Ulang Jakarta: Dari Visi Founding Parents Hingga Kota Smart City” digelar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Senin 14 Juli 2025.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

Jakarta- Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia dan Perhimpunan Alumni UAJ (Perluni) Universitas Katolik Atma Jaya menggelar seminar menyambut lima abad kota Jakarta, Senin 14 Juli 2025.

Seminar bertajuk “Membaca Ulang Jakarta: Dari Visi Founding Parents Hingga Kota Smart City” menjadi ajang strategis menyatukan gagasan lintas sektor untuk menata masa depan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berbudaya.

Bacaan Lainnya

Visi Jakarta 2045: Kolaborasi untuk Kota Global

Deftrianov, Wakil Kepala Bappeda DKI Jakarta, yang hadir mewakili Gubernur Pramono Anung sebagai keynote speaker, menekankan target menjadikan Jakarta sebagai bagian dari 20 kota global teratas.

“Visi ini mencakup pembangunan masyarakat megapolitan yang sejahtera, kota layak huni, konektivitas sosial dan budaya, serta manajemen kota yang modern dan akuntabel,” jelasnya.

Jakarta Dalam Perspektif Sejarah dan Budaya

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chiko Hakim, mengungkapkan bahwa Jakarta sejak awal adalah kota global yang inklusif.

“Jakarta itu egaliter sejak dulu, menjadi simpul banyak budaya dunia. Maka, inovasi kebijakan ke depan harus adaptif, partisipatif, dan berbasis teknologi,” ujarnya.

Rio Dwi Sambodo dari DPRD DKI menambahkan perspektif historis.

Menurutnya, visi Bung Karno menjadikan Jakarta sebagai simbol proklamasi, perlawanan, dan pembangunan karakter bangsa masih sangat relevan.

“Ini jadi kompas moral dan arah transformasi Jakarta,” tuturnya.

Pembangunan Manusia Jadi Fokus

Prof. Sylviana Murni, figur publik Betawi dan mantan walikota Jakarta Pusat, menekankan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama.

“Pencakar langit penting, tapi relasi antar manusia jauh lebih menentukan arah kemajuan kota,” tegasnya.

Ia mendorong strategi Fokkunding (Forum Keluarga dan Komunitas) sebagai pendekatan budaya lokal dalam perencanaan kota.

Pos terkait