Bunga Sepe, Si Flamboyan yang Menjadi Penanda Pulang

Reporter: Ryan 
| Editor: Redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

KUPANG, NarasiTimur.com– Bagi warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mekarnya Bunga Sepe memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar keindahan flora.

Pohon yang secara ilmiah dikenal sebagai Delonix regia atau Flamboyan ini telah menjadi ikon budaya dan penanda alam yang erat kaitannya dengan datangnya musim penghujan dan terutama momen Hari Raya Natal.

Setiap tahun, memasuki bulan November hingga Desember, jalan-jalan utama dan taman-taman di Kupang, seperti Jalan Eltari dan Taman Nostalgia (Tamnos), akan disemarakkan oleh warna merah jingga yang menyala dari bunga sepe yang mekar tanpa daun.

Fenomena ini membuat warga lokal sering menjuluki sepe sebagai “Bunga November” atau “Pohon Desember”.

Sepe, Alarm Natal bagi Warga Perantauan

Meskipun bukan tanaman asli Indonesia melainkan diduga berasal dari Madagaskar, pohon sepe telah terasimilasi kuat dalam identitas Kota Kupang. Bunga merahnya yang merekah di akhir tahun dipercaya berfungsi sebagai “alarm” bagi warga Kupang yang merantau.

Ada ungkapan lokal yang populer: “Pohon sepe su babunga, Kupang su pange pulang,” yang berarti pohon sepe sudah berbunga, Kupang sudah memanggil pulang.

Hal ini menjadikan sepe sebagai simbol kerinduan dan momen berkumpulnya keluarga untuk merayakan Natal dan Tahun Baru.

Identitas Budaya dan Penggerak Ekonomi Kreatif

Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang baru-baru ini semakin meneguhkan status sepe sebagai identitas resmi daerah. Bunga ini tidak hanya dinikmati pesona alamnya, tetapi juga diangkat menjadi motif tenun khas Kota Kupang.

Pos terkait