Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
KUPANG- Krisis pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini memasuki fase darurat. Berdasarkan data terbaru Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTT per 8 Juli 2025, tercatat sebanyak 145.268 anak usia sekolah dasar hingga menengah tidak sekolah alias Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data tersebut menunjukkan bahwa: 8.375 anak telah terverifikasi sebagai ATS sementara sisanya 136.893 anak masih dalam proses verifikasi.
Tiga Kabupaten dengan jumlah ATS yang belum verifikasi tertinggi yakni Kabupaten TTS – 22.251 anak menyusul Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) 13.888 anak dan Kabupaten Kupang 11.381 anak. (Lihat infografis)
Alasan ATS: Lebih dari Sekadar Kemiskinan
Survei yang dilakukan BPMP mengungkap sejumlah alasan mengapa anak-anak di NTT enggan atau tidak mampu bersekolah.
Yang pertama Tidak ada biaya, Sekolah terlalu jauh, Anak tidak mau sekolah, Sudah merasa cukup dengan pendidikan terakhir, Menikah atau mengurus rumah tangga.
Selain itu juga penyebab Trauma akibat kekerasan atau perundungan, Bekerja membantu ekonomi keluarga, Terpengaruh lingkungan atau teman.
Alasan lain, Tidak memiliki seragam sekolah, Tidak memiliki akta kelahiran, penyandang Disabilitas dan masalah kesehatan.
“Data ini sangat mengkhawatirkan. Anak-anak kita sedang kehilangan hak dasar mereka—pendidikan,” tegas Ifran Karim, Kepala BPMP Provinsi NTT beberapa waktu lalu.
Terpisah, Kepala Perwakilan Ombudsman RI NTT, Darius Beda Daton, Jumat 11 Juli 2025 mengecam keras kondisi ini dan menuntut adanya intervensi sistemik dari pemerintah pusat dan daerah.







