Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
KUPANG, NarasiTimur.com-Presiden RI Prabowo Subianto mencanangkan penambahan Bahasa Portugis sebagai mata pelajaran sekolah. Wacana ini segera memicu perdebatan panas.
Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan olahraga langsung memberi ‘lampu kuning’. Mereka tidak setuju implementasi nasional secara langsung.
Komisi X mengajukan usulan strategis: uji coba di daerah yang punya kedekatan historis. Pendekatan ini dinilai jauh lebih bijak.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifuddin, menyambut baik upaya pemerintah untuk memperkaya kompetensi bahasa asing peserta didik.
Di tengah persaingan global, penguasaan multi-bahasa memang menjadi kunci. Namun, Hetifah menekankan pentingnya langkah strategis yang matang sebelum kebijakan ini menjadi beban kurikulum baru.
Mencari Relevansi di Balik Kebijakan Baru
Pertanyaan utama yang diajukan Komisi X adalah mengenai dasar yang jelas dari rencana ini.
“Kami sangat mendukung peningkatan kompetensi bahasa asing, tetapi rencana ini harus memiliki dasar yang kuat dan jelas,” ujar Hetifah.
Hetifah menyoroti tiga aspek krusial yang harus mereka pertimbangkan matang-matang. Ini meliputi: manfaat konkret bagi siswa, hubungan diplomatik sebagai dasar, dan relevansi dengan masa depan karier para pelajar. Bahasa Portugis tidak boleh hanya menambah beban kurikulum. Itu harus memberikan nilai tambah yang signifikan.
NTT, ‘Laboratorium’ Bahasa Portugis Pertama?
Komisi X fokus mengusulkan uji coba program Bahasa Portugis. Mereka ingin program ini berjalan di daerah yang punya interaksi sosial-budaya dan kedekatan historis dengan negara berbahasa Portugis.








