Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com
+Gabung
Menurutnya, IFP membongkar batasan penyampaian materi. Guru kini dapat dengan mudah memadukan presentasi visual yang memukau. Mereka juga bisa menampilkan video edukasi yang relevan, bahkan simulasi interaktif yang kompleks. Semuanya disajikan secara real-time dan dinamis. Oleh karena itu, Pemahaman siswa terhadap materi yang sulit menjadi jauh lebih mudah dicerna.
Siswa Berebut Maju: Dari Pasif Menjadi Kolaboratif
Dampak paling kentara dari kehadiran IFP adalah pergeseran perilaku siswa di kelas. Guru dan siswa tidak lagi terpisah oleh sekat papan tulis tradisional.
“Dulu, ada kecenderungan siswa pasif. Namun kini, mereka justru berebut ingin maju ke depan,” kisah Sofia Walde. Mereka ingin mencoba menulis, menggambar, bahkan menyelesaikan soal langsung di layar sentuh tersebut.
Teknologi ini secara ringkas mengubah suasana kelas menjadi arena kolaborasi yang aktif. Siswa terlibat langsung, sehingga menciptakan rasa kepemilikan terhadap proses belajar mereka.
Selain itu, hal senada juga diungkapkan oleh Hendrikus Noldi Buraen, S.Pd. Ia menambahkan, IFP memiliki keunggulan besar. Teknologi ini mampu menyimpan seluruh materi pelajaran, catatan, dan hasil diskusi kelas dalam format digital.
“Rekaman digital ini bisa kami bagikan kembali untuk review siswa di rumah,” jelas Hendrikus. “Dengan demikian, ini adalah jembatan yang menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan tindak lanjut di rumah.”
Komitmen SDK St. Fransiskus Xaverius Buraen, yang dipimpin oleh Sofia Walde, S.Pd., menjadi contoh nyata. Visi besar Digitalisasi Pendidikan yang digariskan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sudah mulai membuahkan hasil di tingkat akar rumput. Sekolah ini berharap, inisiatif IFP dapat segera diperluas ke seluruh ruang kelas, agar memastikan setiap siswa dapat merasakan manfaat maksimal dari teknologi dalam meniti masa depan mereka.






