Korban Keracunan Massal MBG di TTS Capai 162 Orang, Penyebabnya Diduga Akibat Makanan Basi dan Jadwal Terlambat!

Reporter: Ryan 
| Editor: Redaksi
Suasana siswa Keracunan MBG yang sementara ditangani di TTS

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimur.Com

+Gabung

Kupang, Narasirimur.com – Krisis keracunan massal di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin memprihatinkan.

Jumlah korban yang diduga kuat keracunan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan melonjak drastis hingga mencapai 162 orang per Jumat malam 3 Oktober 2025.

Bacaan Lainnya

Korban keracunan ini tidak hanya terbatas pada siswa Sekolah Dasar (SD), tetapi juga melibatkan anak TK, balita, hingga ibu menyusui, yang semuanya adalah penerima manfaat program MBG.

Korban Dirawat di Tiga Lokasi

Karena tingginya lonjakan jumlah pasien yang mengalami gejala pusing, mual, dan muntah parah, penanganan medis darurat harus dilakukan di tiga lokasi berbeda yakni RSUD Soe, Tenda Kantor Dinas PRKP, dan SD GMIT Soe 2.

Direktur RSUD Soe, dr. Erwin Leo, menjelaskan bahwa meskipun mayoritas korban sudah diizinkan pulang setelah kondisinya stabil, puluhan lainnya masih menjalani perawatan intensif dan observasi.

Dugaan Penyebab: Makanan Basi dan Keterlambatan

Dugaan kuat mengenai penyebab keracunan mulai mengerucut pada buruknya kualitas menu MBG yang dibagikan.

Beberapa siswa mengaku menu sup ayam yang mereka santap sudah mengeluarkan aroma seperti mau basi saat ompreng dibuka.

Ironisnya, karena sudah terlanjur lapar, banyak siswa yang tetap mengonsumsinya.

Selain dugaan makanan yang basi, Kepala Sekolah SD Inpres Soe, Yermia Haekase, menyoroti masalah pengiriman.

Menurutnya, menu MBG yang biasanya diantar pukul 09.00 WITA, pada hari kejadian baru diantar pukul 11.00 WITA. Keterlambatan ini meningkatkan risiko makanan mudah basi, terutama di tengah cuaca panas.

Pos terkait